Tidak Linear Namun Bertumbuh
💫Ketika Jalan Tidak Linear: Antara Gizi, Energi, dan Proses Menyeimbangkan Diri
“Kenapa tidak berprofesi dan mengambil kuliah profesi saja sesuai jurusan?”
”Mengapa tidak bekerja di rumah sakit saja?”
Mengapa hidupku terlihat “tidak lurus”?
Jawabannya sederhana: Karena tubuh dan hidup tidak pernah benar-benar
linear.
Sejak awal, aku menyadari bahwa tidak semua jalan hidup harus berjalan lurus sesuai ekspektasi umum. Aku adalah lulusan sarjana terapan gizi dan saat ini menjalani dua peran sekaligus. Sebagai pekerja swasta dan mahasiswi magister di salah satu Universitas Negeri di Kota Tangerang Selatan. Bagi sebagian orang dua dunia ini terlihat tidak selaras. Namun bagiku, keduanya justru membentuk proses belajar yang lebih utuh.
Dalam ilmu gizi modern, kita belajar bahwa tubuh bekerja berdasarkan sistem yang terukur energi masuk dan keluar, metabolisme, keseimbangan makronutrien, regulasi hormon. Semua ini terlihat rasional. Namun ketika aku mulai mengenal pendekatan Traditional Chinese Medicine (TCM), aku menyadari sesuatu bahwa tubuh adalah sistem energi yang dinamis.
Dalam TCM, ada konsep yin dan yang.
Yin adalah nutrisi, istirahat, cairan, pemeliharaan.
Yang adalah aktivitas, pergerakan, dorongan, ambisi.
Melihat ke belakang, mungkin hidupku terlalu dominan “yang”.
Ambisi besar.
Target tinggi.
Tidak ingin tertinggal.
Tidak ingin waktuku terbuang.
💫Tentang Bekerja di Rumah Sakit dan Ketidaknyamanan yang Tidak Bisa Dipaksakan
Sejujurnya, sewaktu aku ber-PKL di salah satu rumah sakit, aku bukan seseorang yang merasa nyaman berada di lingkungan rumah sakit. Sejak dulu, ruang tersebut selalu terasa “berat” tempat orang datang membawa sakit, kecemasan, dan kehilangan. Bukan berarti rumah sakit adalah tempat yang buruk. Namun ada bagian dalam diriku yang tidak pernah benar-benar merasa pulang di sana.
Beberapa kali aku mencoba denial dengan perasaan itu. Beberapa kali mengkuti wawancara kerja di rumah sakit, berharap mungkin persepsiku keliru.
Namun hasilnya selalu sama : gagal.
Pada satu titik, aku berhenti menganggapnya sebagai penolakan. Mungkin itu adalah bentuk proteksi. Mungkin bukan di sana ruang terbaikku untuk bertumbuh.
Dalam ilmu gizi, kita memahami bahwa tidak semua intervensi cocok untuk setiap individu. Begitu pula dalam hidup tidak semua lingkungan adalah habitat yang tepat bagi setiap orang.
Aku tetap ingin mengembangkan ilmuku. Tapi mungkin bukan dengan cara yang umum. Bukan dengan seragam putih dan ruangan klinis. Melainkan lewat tulisan, lewat ruang diskusi, lewat percakapan yang terbuka. Karena bagiku, ilmu tidak selalu harus hadir melalui jabatan. Semua orang berhak membuka ruang diskusi tanpa memandang pangkat. Bukan hanya aku sebagai lulusan gizi, kita semua berhak untuk belajar apapun non linear dengan basic ilmu kita.
Dalam TCM, lingkungan memang memengaruhi keseimbangan energi seseorang. Jika seseorang memiliki konstitusi yang lebih sensitif (cenderung yin), berada terus-menerus di lingkungan dengan energi yang dianggap “berat” bisa menguras qi. Mungkin itu sebabnya setiap mencoba melamar ke rumah sakit, hasilnya selalu gagal.
💫Dua Dunia yang Berjalan Bersamaan
Hari ini aku bekerja sebagai karyawan swasta sekaligus melanjutkan studi Magister sebagai mahasiswi jurusan Kesehatan Masyarakat. Banyak yang bertanya, mengapa memilih jalur yang terlihat tidak linear. Mengapa tidak fokus pada satu bidang saja?
Bagiku, akademik dan dunia kerja bukan dua kutub yang saling meniadakan.
Pendidikan Magister ku adalah untuk membangun pengetahuan dan pekerjaan ku membangun karakterku.
Jika dilihat dari perspektif ilmu gizi modern, tubuh bekerja melalui sistem yang kompleks dan saling terhubung. Tidak ada satu organ pun yang berdiri sendiri. Begitu pula hidup. Ilmu tanpa pengalaman akan kering. Pengalaman tanpa fondasi ilmu akan rapuh.
Dalam pendekatan Traditional Chinese Medicine (TCM), keseimbangan hidup dijelaskan melalui konsep yin dan yang. Yin merepresentasikan aspek reflektif, nutrisi, ketenangan, dan pemeliharaan. Yang melambangkan aktivitas, ambisi, pergerakan, dan dorongan untuk berkembang.
Akademik adalah yin: mendalam, kontemplatif, teoritis.
Dunia kerja adalah yang: dinamis, adaptif, penuh interaksi sosial.
Menjalani keduanya bukan bentuk kebingungan arah, melainkan upaya menyeimbangkan dua energi tersebut.
💫Pandangan Orang dan Pandanganku
Aku tidak pernah berniat mengubah sudut pandang mereka. Aku membiarkan
mereka mengamati ku dari sudut pandang mereka.
Menurutku, tidak ada undang-undang yang melarang seseorang bekerja di bidang yang berbeda sambil tetap mencintai ilmunya.
Yang mungkin tidak mereka tahu adalah :
Aku masih menerapkan empat tahun ilmuku dalam kehidupanku sehari-hari.
Aku masih membaca.
Aku masih belajar.
Aku bahkan masih sangat terobsesi pada bidangku setelah banyak hal yang aku coba.
Hanya saja, mungkin waktunya belum tiba untuk mengembangkannya secara
penuh.
Aku tidak ingin hanya memiliki teori tanpa pengalaman.
Aku juga tidak ingin hanya bekerja tanpa pertumbuhan intelektual.
Dalam ilmu kesehatan masyarakat, kita belajar bahwa determinan kesehatan tidak hanya biologis, tapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan bekerja lintas bidang, aku justru melihat realitas masyarakat secara langsung.
Pengalaman adalah data.
Interaksi sosial adalah pembelajaran.
💫Obsesi pada Hal yang Berbeda
Sejak dulu aku selalu tertarik pada sesuatu yang tidak banyak dipilih
orang.
Pada saat masih menjadi mahasiswa semester tujuh, aku memilih cabang ilmu gizi olahraga untuk penelitianku. Sebuah bidang yang mungkin jarang diminati karena kompleks dan cukup rumit. Hanya aku dan satu temanku Novia yang mengambilnya. Itu mungkin bagian dari sifat “yang” dalam diriku dorongan untuk menantang diri, untuk tidak memilih jalan yang umum.
Kami merasa sangat beruntung karena dibimbing oleh seorang dosen yangluar biasa cerdas dan memahami konsep penelitian kami dengan mendalam. Penelitian itu tidak mudah, rumit, melelahkan, dan penuh revisi yang berulang sehingga aku kadang harus mengorbankan waktu libur lebaran untuk menemui dosen pembimbing dan mengajaknya berdiskusi. Tapi justru di situ aku merasa hidup. Kami menyelesaikannya dengan hasil yang memuaskan.
Namun dalam TCM, terlalu dominan yang tanpa cukulp yin (istirahat,
penerimaan, kelembutan) bisa menyebabkan kelelahan internal.
Mungkin itu yang terjadi ketika aku terlalu keras pada diri sendiri.
Cumlaude tidak terasa cukup dan tidak pernah sepenuhnya membuatku bangga.
Karena dalam pikiranku saat itu:
“Apa gunanya cumlaude kalau masih menganggur?”
Prestasi juga tidak terasa memuaskan.
Karena yang kucari bukan sekadar pengakuan, tapi makna.
💫Fase Gagal yang Bertubi-tubi
Ada masa di mana aku merasa kegagalan adalah teman akrabku.
Dalam masa itu, aku mencoba banyak hal:
• Mendaftar seleksi magister
melalui jalur LPDP = gagal.
• Mengikuti seleksi magister
jalur reguler = gagal lagi karena skor TPA yang tanggung.
• Mengikuti seleksi bintara
khusus (Bakomsus) gizi = gagal karena tinggi badan.
• Mengikuti seleksi SPPI = gagal.
• Mencoba tes bersama BUMN lintas jurusan = gagal lagi.
Dalam TCM, kondisi seperti ini bisa dilihat sebagai stagnasi qi pada organ hati (liver qi stagnation). Terlalu banyak tekanan emosional, terlalu banyak ekspektasi, membuat energi tidak mengalir dengan lancar.
Dan tubuhku bereaksi.
Aku mengalami GERD yang dipicu anxiety. Aku mencoba untuk sering meminum kopi agar aku rileks padahal dari dulu aku tidak pernah ingin membiasakan meminum kopi ataupun kafein. Banyaknya pikiran dan terlalu banyak standar yang kubebankan untuk diriku sendiri. Hampir empat bulan aku berjuang dengan itu.
Dalam perspektif TCM, lambung (stomach) dan limpa (spleen) sangat sensitif terhadap stres dan pikiran berlebih. Dalam ilmu gizi modern, stres kronis meningkatkan asam lambung, mengganggu regulasi hormon kortisol dan memperburuk gangguan pencernaan.
Dua pendekatan berbeda, satu kesimpulan yang sama :
emosi dan metabolisme tidak pernah terpisah.
Sampai sempat berpikir,
“Mungkin urusan gagal, aku juaranya.”
Rasanya melelahkan.
Menerima penolakan berkali-kali bukan hal yang ringan.
Untuk mengalihkan stres, aku pernah bekerja sebagai crew di sebuah Wedding
Organizer ternama di kotaku. Hanya untuk bergerak dan hanya untuk tidak
tenggelam dalam pikiran sendiri. Aku juga pernah lolos hingga tahap akhir pada
seleksi bersama di salah satu Bank swasta besar yang sangat terkenal. Siapa
sangka seorang aku bisa lulus disana dengan gaji yang lumayan?
Siapa yang tidak ingin bekerja di sana?
Namun pada akhirnya aku memilih mundur.
Bukan karena tidak mampu.
Tapi karena aku merasa itu bukan duniaku.
Sudah aku renungkan dan aku katakan aku tetap obsessed dengan
ilmuku.
Banyak yang menyayangkan keputusanku.
Dan aku mengerti.
Tapi hidup ini terlalu panjang untuk dijalani dengan rasa “bukan aku”.
💫Tidak Sempurna sebagai Lulusan Gizi
Pernah seseorang berkata kepadaku,
“Kamu lulusan gizi, kok makanannya tidak dijaga?”
Aku menjawab ringan,
“Kita jurusan gizi, ikuti saja arahannya. Jangan ikuti gaya hidup kami.”
celetuk ku.
Jawaban itu terdengar bercanda, tetapi menyimpan refleksi mendalam. Lulusan gizi bukan berarti hidup dalam kesempurnaan nutrisi setiap hari. Dalam ilmu gizi modern, pola makan sehat adalah tentang konsistensi jangka panjang, bukan perfeksionisme sesaat.
Dalam TCM, makanan tidak hanya dinilai dari kandungan zat gizinya, tetapi
dari sifat energinya: hangat, dingin, lembap, atau mengeringkan. Tubuh pun
tidak selalu berada dalam kondisi yang sama setiap hari.
Keseimbangan bukan keadaan statis. Ia adalah proses penyesuaian terus-menerus.
Aku bukan ahli yang sempurna.
Dari segi pola makan, aku masih sama seperti kebanyakan orang. Masih suka
jajan sembarangan. Masih makan tanpa perhitungan. Aku sadar aku masih jauh dari
ideal dalam menerapkan ilmu yang kupelajari.
Namun mungkin di situlah letak kejujurannya.
Aku bukan ingin terlihat paling benar.
Aku hanya ingin terus belajar.
💫Mungkin Hidupku Tidak Linear Tapi Sedang Menyeimbangkan
Jika dulu aku melihat kegagalan sebagai tanda ketidakmampuan, sekarang aku
melihatnya sebagai proses penyesuaian energi.
Mungkin aku tidak bekerja di rumah sakit karena jalanku adalah edukasi dan
diskusi.
Mungkin aku bekerja di bidang berbeda agar memahami masyarakat secara lebih
luas.
Mungkin kegagalan-kegagalan itu sedang membentuk ketahanan mental yang
dalam TCM berkaitan dengan kekuatan ginjal (kidney energy), pusat daya
tahan dan keberanian.
Aku masih terobsesi pada ilmuku.
Masih membaca.
Masih belajar.
Masih ingin berkontribusi.
Hanya saja, aku tidak lagi memaksakan garis lurus. Karena kesehatan, seperti
hidup, bukan tentang kecepatan. Ia tentang keseimbangan antara yin dan yang.
Antara ambisi dan penerimaan.
Antara ilmu dan pengalaman.
Dan mungkin, aku sedang belajar menyeimbangkan keduanya.
💫Apa yang Aku Dapat dari Bekerja sebagai Karyawan Swasta?
Banyak.
Teramat banyak.
Orang mungkin melihatnya sebagai “tidak linear” dengan jurusanku. Tapi jika
dilihat dari sudut pandang kesehatan masyarakat dan TCM, justru pengalaman
sosial adalah bagian dari keseimbangan hidup.
Sebagai karyawan swasta, aku belajar:
• Bagaimana bersikap dalam
lingkungan profesional
• Bagaimana menghadapi
berbagai tipe manusia
• Bagaimana berkomunikasi
dengan efektif
• Bagaimana mengelola konflik
• Bagaimana menghadapi
omongan yang tidak benar tentang diriku
• Mempelajari berbagai tools
digital
• Belajar coding
• Membuat dashboard dan analisis data
Semua itu bukan sekadar skill teknis.
Dalam ilmu kesehatan masyarakat, komunikasi dan pemahaman sosial adalah
kunci intervensi yang efektif. Ilmu gizi tidak berdiri sendiri ia bahkan
berjalan bersama perilaku, budaya, dan lingkungan sosial.
Dalam TCM, organ limpa (spleen) tidak hanya berfungsi mencerna
makanan, tetapi juga “mencerna pikiran”. Overthinking dan tekanan sosial bisa
melemahkan fungsi ini. Belajar mengelola komunikasi dan tekanan sosial secara
tidak langsung adalah proses memperkuat stabilitas emosi dan energi.
Aku belajar bahwa menghadapi berbagai karakter manusia itu seperti memahami
berbagai konstitusi tubuh. Tidak bisa satu pendekatan untuk semua.
💫Tentang Defisiensi Yin dan Perempuan yang Terlalu Keras pada Diri Sendiri
Sebagai perempuan muda dengan ambisi tinggi, aku mulai memahami bahwa
dominasi “yang” tanpa cukup “yin” dapat menguras energi internal. Dalam
TCM, defisiensi yin sering dikaitkan dengan kelelahan, gangguan tidur,
siklus haid yang tidak stabil, dan sensitivitas emosional.
Yin adalah aspek yang menenangkan dan menutrisi. Ketika ia
terkuras oleh ambisi berlebihan, overthinking, dan tekanan ekspektasi, tubuh
perlahan memberi sinyal.
Dan mungkin selama ini aku terlalu keras pada diriku sendiri.
💫Tentang Orang Tua dan Harapan
Ada pula pertanyaan lain:
“Orang tuamu bagaimana? Mereka kecewa?”
Tidak. Mereka mendukung setiap langkahku. Mereka hanya mendoakan. Namun
justru karena dukungan itu, aku sadar bahwa aku adalah bagian dari harapan
mereka.
Kesadaran itu bukan beban. Itu adalah alasan untuk tidak menyerah.
Jika orang lain bisa jatuh berkali-kali dan tetap bangkit, mengapa aku harus berhenti hanya karena beberapa kegagalan?
Mungkin ini bukan tentang cepat atau lambat.
Bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain.
Tapi tentang menemukan keseimbangan antara ambisi dan ketenangan, antara yang dan yin, antara bergerak dan beristirahat.
Sekarang aku juga sedang mengambil kursus bahasa.
Pelan-pelan membuka pintu baru. Aku tidak tahu akan membawaku ke mana, tapi
aku tahu aku sedang bergerak. Dan bergerak adalah bentuk ikhtiar.
Aku tidak sedang terlambat.
Aku hanya sedang belajar mengenali ritmeku sendiri.
Dan selama aku masih mau belajar, masih mau memperbaiki diri, masih mau
bangkit berarti yin dalam diriku masih bisa dipulihkan, harapan masih
ada,
Dan perjalananku belum selesai ...
Terharu sama perjalanan nya 🥹
BalasHapusLuar biasa hidayah sejarahnya, Berisikan data yang diungkap dengan penuh kejujuran secara intelektual dalam mengenali diri. Ayah sangat meyakini
BalasHapusdari sudut pandang pola pikir bawa ada resiliansi diri yang kuat untuk tetap growth mindset. Teruslah belajar, tidak ada yang percuma semuanya untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan bathin. TERIMA KASIH TELAH MEMBERIKAN PENCERAHAN TENTANG "yang dan yin" goods
Keren banget n semangatt
BalasHapusSeru banget banyak lika liku perjuangannya, semangat nak
BalasHapusKeren... Semangat Berkarya nya
BalasHapus